Jombang: Menjemput Hidayah yang Sempat Tertunda
Moh. Alim
Matahari belum terlalu tinggi ketika jarum jam menunjukkan pukul 07.45. Di atas sepeda motor, saya dan putra saya memulai perjalanan menuju Jombang. Sepanjang perjalanan selama dua jam lima belas menit itu, pikiran saya melayang ke masa lalu.
Ada sebuah penyesalan yang seringkali datang terlambat. Dahulu, ketika saya kelas enam madrasah Ustaz saya menyarankan kepada saya untuk mondok, “Besok mondok, Lim?” namun saya mengatakan kalau saya akan sekolah di madrasah tsanawiyah (MTs/ setara SMP). Kemudian masa berlalu, saya masih rutin secara berkala mengunjungi beliau, ketika kelas tiga MTs, saya lagi-lagi mendapatkan pertanyaan yang sama, namun saya mengatakan kalau saya akan melanjutkan pendidikan di SMA. Setelah menyelami asam garam kehidupan, saya menyadari bahwa ilmu agama bukan sekadar hafalan, melainkan jangkar di tengah badai zaman. Pendidikan formal memang memberi kita sayap untuk terbang, tetapi pesantren memberi kita akar agar tidak mudah tumbang. Itulah mengapa, saya tidak ingin putra saya kehilangan kesempatan emas yang dulu saya sia-siakan.
"Masih jauh, Nak?" tanya saya di balik helm. Putra saya sibuk melihat Google Maps di ponselnya, memandu perjalanan pertama kami dengan motor menuju wilayah Cukir, Jombang. Tepat pukul 10.00, kami sampai di sebuah pondok pesantren yang asri. Setelah meminta izin kepada satpam, kami diperbolehkan masuk untuk melihat situasi, meski area asrama tetap terjaga privasinya.
Pandangan saya tertuju pada sebuah pemandangan yang menyejukkan: sepuluh gazebo berderet rapi di sekeliling kolam dan taman. Di setiap sisi atas gazebo, terdapat rak yang berisi Al-Qur'an yang siap dibaca.
Melihat deretan gazebo itu, saya tersadar bahwa lingkungan adalah guru yang diam. Desain pesantren yang menyatukan alam dengan kalam Tuhan secara tidak langsung berargumen bahwa belajar agama tidak harus kaku. Membaca Al-Qur'an di tepi taman menciptakan ketenangan psikologis yang sulit didapatkan di meja kelas yang tersusun rapi. Di sinilah kecerdasan spiritual dan emosional anak diasah secara bersamaan.
Setelah mengambil air wudhu, saya melaksanakan salat Dhuha dan salat sunnah mutlak di masjid sebelah taman. Rasa syukur tak terkira, saya membayangkan seandainya dulu saya memilih mondok, maka saya bisa merasakan ketenangan yang saya rasakan saat ini di lingkungan pondok. Saya ajak putra saya bersimpuh mengirim doa melalui Yasin dan Tahlil. Kami berada tepat di sebelah barat masjid, di mana makam pendiri pondok dan keluarganya berjejer tenang.
Kami kemudian melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kantor pusat. Di sana, takdir mempertemukan kami dengan satu keluarga dari Jepara yang memiliki niat serupa. Kami mengikuti seorang Ustaz yang sedang menjelaskan informasi pendaftaran. Ada rasa lega luar biasa; ternyata kami tidak sendirian dalam ikhtiar ini. Kami saling berganti peran untuk bertanya kepada Ustaz pondok menanyakan hal-hal terkait pendaftaran, biaya pendidikan, program keseharian santri, fasilitas, hingga prosedur tes masuk.
Pertemuan dengan orang tua dari Jepara itu memperkuat keyakinan saya bahwa silaturahmi adalah pembuka pintu kemudahan. Di saat kita memiliki niat baik untuk mendidik anak di jalan agama, semesta seolah bekerja mengirimkan "teman seperjuangan".
Sebelum pulang, perjalanan ini kami tutup dengan ziarah yang paripurna. Kami menuju makam K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H Abdurrohman Wahid (Gus Dur), di lokasi makbaroh saya kembali bertemu dengan keluarga dari Jepara tadi di sela-sela jamaah yang sedang ziarah yang sedang melakukan pembacaan Yasin dan Tahlil. Saya bertemu kembali dengan keluarga dari Jepara deretan di stan penjual ketika sedang memilih-milih songkok. Saya terdiam sejenak. Seolah Allah menegaskan agar saya tidak menyia-nyiakan pertemuan ini. Kami melakukan pertukaran nomor telepon. Pertukaran nomor telepon ini bukan sekadar urusan administratif pendaftaran pada Januari 2026 nanti, melainkan simbol ukhuwah antara dua orang tua yang sama-sama ingin menyelamatkan masa depan anak-anaknya.
Seolah belum cukup, perjalanan pulang kami sempurnakan dengan mampir ke makbaroh K.H. Abdul Wahab Chasbullah. Saya bertemu dengan serombongan Ustaz/Dzah dari Kabupaten Batang sejumlah tiga belas bus yang berasal dari guru Madin, TPA/TPQ satu kecamatan. Mereka hendak berziarah dan sowan kepada Kiyai pondok pesantren yang ada di wilayah Jombang.
Sore itu, saat motor melaju meninggalkan Jombang, saya melirik putra saya dari kaca spion. Ada harapan besar yang saya titipkan di pundaknya. Saya mungkin pernah menolak jalan ini, tapi melihat semangatnya hari ini, saya tahu bahwa perjalanan dari Cukir ini adalah langkah awal untuk membayar penyesalan masa lalu dengan masa depan yang lebih berkah.
Kepoh, 29 Desember 2025



Komentar
Posting Komentar