Jombang: Menjemput Hidayah yang Sempat Tertunda
Moh. Alim Matahari belum terlalu tinggi ketika jarum jam menunjukkan pukul 07.45. Di atas sepeda motor, saya dan putra saya memulai perjalanan menuju Jombang. Sepanjang perjalanan selama dua jam lima belas menit itu, pikiran saya melayang ke masa lalu. Ada sebuah penyesalan yang seringkali datang terlambat. Dahulu, ketika saya kelas enam madrasah Ustaz saya menyarankan kepada saya untuk mondok, “Besok mondok, Lim?” namun saya mengatakan kalau saya akan sekolah di madrasah tsanawiyah (MTs/ setara SMP). Kemudian masa berlalu, saya masih rutin secara berkala mengunjungi beliau, ketika kelas tiga MTs, saya lagi-lagi mendapatkan pertanyaan yang sama, namun saya mengatakan kalau saya akan melanjutkan pendidikan di SMA. Setelah menyelami asam garam kehidupan, saya menyadari bahwa ilmu agama bukan sekadar hafalan, melainkan jangkar di tengah badai zaman. Pendidikan formal memang memberi kita sayap untuk terbang, tetapi pesantren memberi kita akar agar tidak mudah tumbang. Itulah mengapa, saya ...