Postingan

Tabarrukan

Gambar
Oleh: Moh. Alim Perjalanan seorang santri dalam menempuh pendidikan agama memang di saat ini sedang menjadi perhatian publik. Semenjak ditetapkannya peringatan hari santri sebagai hari besar nasional yakni setiap tanggal 22 oktober, perbincangan tentang santri menjadi semakin menarik. Banyak sekali aspek-aspek yang dilirik mengenai santri. sumber gambar: bacabaca.com Diantara yang menjadi bahan perbincangan adalah santri yang menjadi pelopor kemerdekaan bangsa indonesia. Sehingga muncullah santri sebelum kemerdekaan, santri pada masa perjuangan, dan santri pasca kemerdekaan. Pada dasarnya santri adalah sebutan bagi seorang yang menimba ilmu pengetahuan di sebuah pondok pesantren. Di pondok pesantrenlah seorang santri digembleng segala hal terkait dengan kehidupan. Baik kehidupan di dunia, maupun kehidupan di akhirat kelak. Belajar tentang hubungan sesama makhluk dan hubungan kepada pencipta makhluk, Allah SWT. Dalam perjalanannya menempuh pengetahuan, seorang santri memil...

Suka Lagu Apa? Lirik Lagu adalah Sastra

Gambar
Moh. Alim Judul di atas adalah sebuah tanda tanya yang besar bagi diri saya. Bukan saya tidak suka lagu. Namun lebih karena tak ada satu pun lagu yang saya hafal liriknya dari awal sampai akhir, satu lagu penuh. Apalagi disuruh menyanyikannya, misalnya untuk karaoke. Saya pasti zonk alias tidak pernah sama sekali. Jika ada orang karaoke, juga ingin bisa, tapi keinginan itu hanya berhembus hilang bersama hembusan nafas begitu saja. Lagu memang menjadi lagu hidup. Lagu akan berubah sesuai kondisi di mana lagu tersebut berada. Pada tahun kisaran 1990-2000, . Dangdut paling ngetrend adalah Si Raja Dangdut, H. Rhoma Irama. Dangdut pada zaman itu sangatlah berbeda dengan lagu dangdut zaman sekarang. Pun begitu juga dengan lagu berjenis pop. Lagu hidup juga dipengaruhi oleh lokasi di mana seseorang itu berada. Semenjak kecil hingga dewasa, karena tinggalnya di desa, kebanyakan lagu yang saya dengar bersumber hanya dari radio panasonic. Lagu yang paling sering diputar adalah lagunya ...

Catatan Malam Buta

Gambar
Oleh: Mbah Alim Kita hendak ke mana Ketika kuasa tak mampu membentuk suasana sesama Hingga hilang laku-laku saudara Yang dahulu diperjuangkan bersama-sama Entah apa yang dimaksud berkurban Ketika yang lain singsingkan lengan Yang lain sorak-sorai tertawakan Cibiran dan hasutan jadi sarapan Aduan bahkan kambing hitam menjadi jalan keamanan Nasib diperjualbelikan Refleksi materi kehidupan tak lagi dicari Tak ada lagi langkah alternatif untuk suatu keinginan Dihentikan oleh kekuasaan yang menengadah tajam Di manakah lagi kucari seulas sapaan? Ketika hasil usaha tak ada lagi menjadi bahan pertimbangan Suka-suka saja buat A dan B Lebih baik ini dan itu Langkah tak lagi tentu Kawanan domba hilang kendalinya Serakan nyawa tak lagi memiliki arah nyata Hilang dibutakan oleh gulita Malam akan menjadi sesaat mengharukan Ketika bintang telah pergi kemana kau akan berpegangan? Kau jual kawan Kau kambingkan yang tak hitam Kau hitamkan suasana persaudaraan Hingga hilang...

Kontekstual Perjuangan

Moh. Alim* Pada dasarnya kemerdekaan bukanlah puncak dari sebuah perjuangan. Perjuangan menjadi usaha setiap orang untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan atau diimpikan. Jika pada masa sebelum kemerdekaan, para pahlawan (pejuang) secara bersama-sama bertujuan untuk memerdekakan Negara Indonesia. Sehingga pada 18 Agustus 1945 tercapailah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Perjuangan terus bergulir. Pada kisaran tahun 1965-1966, perjuangan Bangsa Indonesia mengarah kepada Pemusnahan Paham PKI dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Begitu seterusnya hingga munculnya orde baru (1966-1998). Kemudian muncul masa reformasi sebagai wujud perjuangan orang-orang pada masa itu demi mencapai tujuan-tujuan yang harus diadakan di Negara Indonesia. Begitu seterusnya hingga era milenium dan milenial pada saat ini. Jika pada masa dahulu perjuangan kemerdekaan berasal dari daerah-daerah. Kemudaian disatukan dengan gerakan pemuda-pemuda di tiap daerah. Sampai akhirnya bersatu pad...

Dendang Malam

Oleh: _alim86 Duhai cintaku, jangan biarkan malam ini penuh rindu. Kita kaburkan angan semu. Kita buat petuah-petuah tak tentu. Kita semaikan niat bertemu. Aku di pelaminan rindu. Duhai hatiku, meski malam kemelut kelam. Tak jarang jangkrik-jangkrik jungkir balik mengharap pertemuan. Rinai rinduku untukmu telah menjulang. Kita tak ubahnya tetes-tetes suci embun di dedaunan. Niatku dan niatmu semisal. Ketika harumnya Kamboja malam semerbak di pelataran. Kasturi cahyamu mengusik kalbu. Hentakkan langkahku. Untuk sekedar berucap "aku rindu". Oh .... ===== Terkadang kita tidak sadar telah menghancurkan apa yang kita sanjung-sanjung sebagai peribadatan. Semisal dengan ungkapan "dia kok nggak mau belajar yaaa, padahal buku-buku dan materi di internet banyak sekali". Contoh lagi? "Pantas saja dia tak disayangi gurunya, dia selalu telat". Banyak sekali ungkapan-ungkapan seperti itu kita jumpai di sekitar kita. Bahkan mungkin saja secara tidak sadar, kita...

Happy 18th

Gambar
Karya: Muhammad Alim "Kamu jangan menulis terus, entar botak lo" celoteh Mas Diki sambil lalu melewatiku. Aku hanya nyengir saja dengan tetap memegang bolpoin dan kertas. Aku sudah biasa mendengar ocehan-ocehan seperti itu. Rasa-rasanya seluruh teman seperusahaanku selalu mengolok apa yang aku lakukan, menulis. Secara apa yang dilakukan oleh perusahaanku jauh dari yang namanya tulisan. Pabrik kusen pintu dan jendela. Aku sudah lima tahun lebih mengikuti permintaan orangtuaku untuk bekerja di perusahaan milik pamanku ini. Meski bukan saudara kandung ayah dan ibuku, namun paman memberlakukanku sudah seperti anaknya sendiri. Sehingga aku bekerja bisa semaksimal mungkin. Seolah-olah aku mengerjakan milikku sendiri. Aku memang sudah sejak SMA suka menulis. Namun selama ini hanya untukku sendiri. Coretan-coretan bolpoin dalam buku tulis selalu kusimpan rapi. Hingga aku bertemu dengan seorang gadis gingsul setahun lalu. Dia mengikuti ayahnya membeli jendela di tempat kerja...

Menulis itu bukan Hobi atau Bakat, Menulis itu Mau atau Tidak.

Gambar
Catatan menulis bagi mereka Oleh: Moh. Alim Siapapun bisa menulis. Sejak SD kelas bawah kita sudah belajar menulis. Bahkan saat ini kelompok bermain pun sudah diajari menulis. Perkembangan zaman menuntut orang untuk bisa menulis. Tak percaya? Siapa yang akan mengisi konten-konten menarik dalam segala sisi teknologi jika bukan seorang penulis. Penulis itu universal. Dia adalah observator nomor satu yang mendapatkan tugas menyampaikan informasi terpercaya melalui tulisan kepada semua orang penikmat/pemakai teknologi. Apakah juga dalam masa yang berbasis digital seperti saat ini? Tentunya iya. Kita bisa melihat mulai dari e-book dari semua bidang kehidupan. Baik dari bidang agama, sosial, budaya, dan semuanya. Telah ada dalam e-literacy. Hal tersebut menunjukkan bahwa literasi tidak akan musnah dan berhenti karena perkembangan teknologi. Namun sebaliknya literasi akan sejalan dengan perkembangan zaman yang ada. Menulis memang perlu sebuah kemauan. Menulis tidak hanya perlu keahli...